RIWAYAT GEDUNG NASIONAL SAMARINDA

       kalau mengungkap sekedarnya sejarah gedung Nasional , maka kurang lengkap rasanya, kalau tidak terlebih dahulu mengetahui salah-silah perwatasannya atau pertanahan yang diatasnya tempat gedung itu berpijak.
       Perwatasan itu dahulunya hanya tanah kosong milik  dari Abdoel Hamid, cranie pada perusahaan batu bara OBM (Oost Borneo Maatscappij) di Loa kulu , sebuah kampung termasuk dalam lingkungan kota Tenggarong Kutai Kertanegara.

Bangunan Lama
Gedung Nasional Samarinda


       Kalau sejenak kita pikirkan , Pada waktu itu mendirikan Gedung Nasional . , tidak begitu saja Belanda mau menyerahkan tanah negara kepada suatu Badan pergerakan rakyat yang berbau politik, kalau tidak perwatasan itu sudah ada bumi putera yang empunya.

Gambar Gedung Nasional  Samarinda tahun 1950 an
(Dok Wahel Tantawy)

       Untuk gedung nasional perwatasan itu telah tersedia atas teloransi yang punya perwatasan tadi (Lokasi batas tanah Gedung Nasional), tinggal balik nama saja. Lalu di dirikanlah Gedung Nasional yang dimaksud.
Sedangkan yang mempunyai perwatasan (Batas Tanah)  itu adalah seseorang yang berjiwa Nasional maka urusan menjadi lancar.
        Gedung tersebut mula-mula didirikan sekitar tahun 1946 , yang merupakan sebuah " Panggung Besar " jika bertonggak mungkin mirip dengan Lamin kalau dipandang dari luar.
        Dimasa itu bangunan hanya terdiri dari bahan material  biasa  saja ,yang sangat sedehana untuk membangun rumah biasa , Lantainya saja hanya terbuat dari bahan tanah yang bercampur kerikil, sedangkan dindingnya dibagian bawah dipasang papan dan bagian atasnya dari Kajang (daun nipah) , dan atapnya juga mengunakan bahan kajang juga.                Sedangkan tukang yang sangat berjasa ,,membuatnya adalah bernama IMBRAN  SALEH.

Dimasa bangunan ini masih dalam keadaan "Primitif" tempat ini sempat digunakan oleh partai IKATAN NASIONAL INDONESIA (I N I) untuk melaksanakan Konfrensi nya Ke 2 ,pada 16 sampai 19 April 1948 .                 ...Sebelumnya dilaksanakan di Balikpapan pada 31 Mei 1947.
    Sewaktu  awal berdiri TUGU  NASIONAL yang ditempatkan tepat dihalaman muka tidak  berubah ataupun bergeser dari posisi awal dibangun hingga di zaman sekarang.

Di tempat inilah banyak suka duka para kaum pejuang dalam menghitung keseimbangan untung ruginya yang telah mereka perbuat dengan segala resiko, berupa pengacauan, kericuhan sampai terjadi   pembunuhan ,pembakaran, boleh dikata bersumber dari perencanaan gedung tersebut.
..........Demikan pula  para pejuang politisi selalu mengadakan kegiatan rapat  ,berbincang ,bermusyawarah mengenai hal apapun digedung ini, Mengatur siasat politik menentang kekuasaan penjajajah Belanda....
     Disini pula IKATAN  NASIONAL  INDONESIA  (I N I ) mengeluarkan  hasil pemikiran dan peryataan-peryataan tegas.

     Dihalaman dan didalam  gedung inilah dulu  hampir semua kegiatan dilaksakam seperti Hari  Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ,Hari ABRI ,,HARI ,   KEBANGUNAN  NASIONAL  ,HARI PAHLAWAN dan hari besar lainnya,, Disitulah semua perundingan dirancangkan dan direncanakan ,segala kekompakan,,semua kawan tahu akan tugas mereka,,tidak ada mengeluh ,jauh sekali dari sifat iri dengki ,,,,semua patuh   semua taat,,,karena mereka semua tidak mengenal kedudukan kepangkatan  serta kemewahan  ,jauh sekali mengharapkan upah,,karena Umpama keris tahu akan Hulunya.

Bangunan baru
Gedung Nasional Samarinda 



GEDUNG  NASIONAL  SAMARINDA  TERNODA

Riwayat GEDUNG  NASIONAL  ini bersahaja ,tetapi perannya penting.
Dalam pada saat itu kehormatannya pernah dinodai oleh kegiatan ulang tahun  ke 40  Ratu  JULIANA (Ratu Kerajaan Belanda), Gedung ini  dijadikan tempat perayaan pihak lawan (Belanda) ,,sedangkan pada saat itu rakyat dalam  masa perjuangannya dan didalam penderitaan ,ditekan ada yang merana hidup didalam penjara dengan penuh siksaan, ada pula yang berhijrah  gugur  dalam perjuangannya tak tentu kuburannya. ..........Diwaktu itulah Gedung Nasional diam seribu bahasa.. ,,semua diam.  ,..Hal ini  tentu saja ada pihak yg memberikan izin atas digunakannya Gedung ini...siapakah..??

Ratu Juliana


Padahal saat itu masih ada gedung lainya seperti "KOETAI  CLUB" yang berdiri sebelum perang dunia ke 2 ,,disinilah tempat pertemuan kaum Belanda di Samarinda.
        Masyarakat sangat merasa tersinggung ,gabungan antara primitif dan kemewahan gedung tersebut tidak menjadi pokok acara di pesta itu ,akan tetapi kehormatan yang tidak dapat di beli dan itu layak itu di junjung tinggi.
         Menu masakan Belanda yang lezat teramat cukup mewah disajikan yang hanya di tempatkan di bagunan primitip ' beratapkan daun nipah,,tentu saja hal itu ada sesuatu yang dipikirkan oleh pihak Belanda ,,istilah kata "Kalau tidak ada Udang di Balik Batu" .



PEMBANGUNAN  GEDUNG NASIONAL

Pada tahun-tahun terakhir dikerjakan bangunan gedung tersebut di bahagian depannya dengan beton dan berbentuk modern pada zaman itu , dan pengerjaannya dilakukan oleh R.P  Soeparto ,seorang anemar bonafide berjiwa Nasionalis.

         Panitia GEDUNG NASIONAL ditangani oleh panitia tersendiri yang terdiri dari anggota FRONT  NASIONAL ,dan khususnya dari kalangan IKATAN NASIONAL INDONESIA (I N I), diantara lain adalah :
1. A. Moeis Hassan
2. M. Djamdjam
3. Abdul Aziz Samad
4. Moegeni Hassan
5. Sjachroemsjah Idris
6. R.P  Siswodjo
7. Tan Tjong Tjioe


PEMBUATAN  TUGU  NASIONAL

Atas usaha masyarakat di Samarinda yang dipelopori oleh IKATAN  NASIONAL  INDONESIA cabang Samarinda dapat didirikan sebuah Tugu dihalaman depan GEDUNG  NASIONAL  di Jalan "BLOEMSTRAAT" kemudian berubah menjadi jalan "BUNGA"  setelah Lahirnya Tugu tersebut diubah lagi menjadi jalan TUGU (Sekarang jalan Panglima Batur)

Sebagai pengormatan  atas Tugu tersebut ,, mengingat bangunan itu hasil  karya anak bangsa dimasa perjuangan dahulu untuk  merebut  kembali kemerdekaan  RI ,Sangat selayaknya lah kalau bangunan itu dihormati ,dirawat oleh generasi penerus bangsa di zaman sekarang,,(bukan dipuja atau dikeramatkan) .


Tugu Nasional ini  letaknya berada diatas tanah  wakaf dari keluarga  A. Moeis Hassan yang tadinya  hanya berupa kuburan keluarga yang sudah puluhan tahun lamanya.
       Biaya pembelian bahan material sampai pengerjaannya  hingga selesai  sebahagian besar dana berasal dari kemurahan hati dari seorang Nasionalis  yang dermawan yaitu bernama RADEN  PANDJI  SOEPARTO (Pemborong bangunan yang bonafide) .
       Di saat sebelum peresmian ,Tugu itu diselubungi dengan kain dan  akan dibuka pada hari  yang bertepatan dengan ulang tahun ke 40 hari Kebangunan Nasional pada 20 Mei 1948.
        Akan tetapi belum tiba  hari yang ditunggu selubung kain yang menutupi tugu tersebut dibuka munculah larangan dari pihak  Pemerintah Belanda,,akan tetapi Belanda tidak bisa berbuat apa-apa,,karena masyarakat sangat ramai mengerumuni Tugu tersebut siang dan malam silih berganti menjaganya.
        Masyarakat protes terhadap Belanda dan sekali-kali  mempropokasi dan mendesas-desuskan bahwa pasukan bahwasanya Pasukan Tentara Nasional Indonesia (T N I) sudah berada di kota yang berjumlah 500-600  anggota dengan persenjataannya.
        Boleh jadi Belanda tidak takut akan gertakan itu , karena Belanda  lebih memiliki persenjataan lebih sangat lengkap ,tetapi Belanda sudah kehilangan sebahagian morilnya.

Acara peresmian pembukaaan kain selubung di Tugu Nasional di jalan  BloemStraat/ Panglima Batur itu 5 lima hari terlambat dari pada hari yang direncanakan.

PADA  PERMUKAAN (SISI  SEBELAH  DEPAN)  TUGU  TERSEBUT  DICANTUMKAN  TULISAN  DIATAS  MARMER  DAN  YANG MELEKAT  PADA  KATA-KATANYA  ADALAH :


KETERANGAN :

1. Kata-kata yang tertera dan tertulis diatas Marmer itu adalah penetapan dari  FRONT  NASIONAL SAMARINDA.
2. Batu Marmer adalah sumbangan dari  Haji Abdoel  Gani Rahman
3. Pemahat Marmer : BASIMAN
4. Pelukis Huruf : Wahel Tantawy





Gambar Gedung Nasional Fotografer : Garuntung Manau





Sekian
Penyusun : Edy Yan
Komunitas Jelajah-History of Samarinda



Sumber  Informasi data :

Mohammad Roem Tantawy (Sedjarah Perjuangan dan Pergerakan rakjat Kalimantan Timur)



      

Komentar

Postingan Populer